Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda? Ini penjelasanya

Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda


Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda orang yang munafik dan merupakan karakter nista yang harus dijauhi oleh umat Islam. Masalahnya dengan berdusta atau bohong semua ibadah baik dapat lenyap begitu saja. Disamping itu, berdusta akan datangkan mundarat yang lain. Tidaklah aneh bila orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda orang tidak baik.

Berikut diterangkan dasar hadis dan ganjaran buat mereka yang berdusta.

 

Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda munafik

Hadis Mengenai Bohong atau orang yang berkata dusta

Dalam Islam, seorang yang kerap bohong atau orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda merupakan salah satu tanda dan ciri-ciri orang munafik. Sikap ini tidak dicintai Allah SWT karena bisa mencederai dan merugikan orang lain.

 

Ada tiga beberapa ciri orang munafik yang diriwayatkan dalam Hadits Abu Hurairah. Berikut bacaan hadis itu:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Maknanya: "Rasulullah SAW bersabda: Tanda orang munafik ada tiga; apabila berkata ia berbohong, apabila berjanji mengingkari, dan bila dipercaya ia mengkhianati."

 

Berkenaan sikap bohong sendiri, sebenarnya hal itu dimuat dalam hadis dari Bahaz bin Hakim. Berikut bacaan hadisnya:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Maknanya: "Rasulullah SAW bersabda: celaka bagi orang yang berbicara lalu bohong agar orang-orang ketawa. Sungguh celaka dia. Celaka dia."

 

Dari ke-2 hadis di atas, tentu saja tahu jika tindakan bohong atau Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda celaka. Ditambah lagi jika perlakuan itu bikin rugi orang lain, sekalipun cuman sebatas candaan.

 

Bahaya Dusta dan Keutamaan Menghindarinya

Dusta jadi pintu dari dosa-dosa lain. Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda buruk yang bisa membawa pelakunya ke lubang kemaksiatan. Munculnya dusta berakar dari dalam hati seorang yang ingin menipu dan menyembunyikan kebenaran.


Bahaya dusta besar sekali untuk manusia. Puncaknya, sifat dusta akan menggeret pelakunya ke neraka. Karenanya, disarankan untuk seorang Muslim untuk menghindari sifat dusta dan mengaplikasikan karakter jujur.

 

Mencuplik buku Wanita Seistimewa Bidadari oleh Quratta Ain, kejujuran bisa mengantar seorang Muslim pada kebajikan. Dia bahkan juga akan mendapatkan kelebihan berbentuk surga. Rasulullah SAW bersabda:


"Bersikaplah jujur. Sesungguhnya, kejujuran mengantarkan pada kebajikan, sedangkan kebajikan mengantarkan ke surga. Tidaklah seorang lelaki senantiasa bersikap jujur dan berupaya jujur sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Jauhilah bohong. Sesungguhnya, kebohongan menyeret pada kedurjanaan, sedangkan kedurjanaan menyeret ke neraka. Tidaklah seorang lelaki selalu berbohong dan berupaya bohong sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai pembohong." (HR Muslim)

 

Disamping itu, sikap jujur bisa juga bawa pelakunya untuk menjauhi dari dosa-dosa besar. Hamka dalam buku Berbohong di Dunia menceritakan jika di suatu hari, datanglah seorang yang barusan bertaubat ke Nabi Muhammad SAW.


Ia mengutarakan rutinitas-kebiasaan jeleknya. Ia sukai berzina, sukai mencuri, peminum khamr, dan sukai berdusta. Ia ingin hentikan keburukannya itu, tapi ia belum mampu hentikan semua.

 

Karenanya, ia minta tuntunan dari Nabi, manakah satu antara ke-4 perangai jeleknya itu yang harus dihentikannya lebih dulu. Nabi juga memberikan tuntunan.


Beliau menjelaskan jika yang perlu dihentikannya dari rutinitas jeleknya cukup satu yakni dusta. Yang lainnya tak perlu.

Tenanglah hati orang itu, karena yang harus disetop dan dihindari menurut tuntunan Nabi tidak berat, cuman tinggalkan dusta. Ia bisa berzina, bisa terus minum khamr, dan bisa mencuri.


Selanjutnya berjalanlah ia. Saat sampai ke satu tempat, ia menyaksikan wanita cantik.
Ia ingin berzina dengannya, lalu ia berpikiran, "Kalau aku bertemu dengan Rasulullah esok, lalu beliau menanyakan ke mana aku kemarin. Aku harus menjawab apa?"

 

Dia juga berkata "Saya tidak boleh berdusta! Tentu jika aku mengakui bahwa aku telah berzina, murkalah baginda."


Ia juga meneruskan perjalanannya ke arah tempat lain. Di situ kelihatan beberapa temannya yang sukai minum khamr. Ia hampir turut tergabung sama mereka, tetapi tujuannya dibatalkan.
Lalu ia terpikir akan janjinya ke Rasulullah, jika ia tidak akan berdusta. Ia juga tidak jadi minum khamr dan tidak mencuri.


Pada akhirnya, ia menjumpai Rasulullah kembali dan mengaku bagaimana besarnya dampak dari berhenti untuk berdusta yang dilandasi dari kemauan dirinya. Ia berkata, "Ya Rasulullah! Semua telah kuhentikan!"

 

Hukum Berdusta Walaupun Bergurau

Allah SWT tidak menyenangi sikap seorang yang sukai bohong atau berdusta. Termasuk sewaktu berbohong saat bergurau. Masalahnya orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda tidak baik. Contoh kalimat bohong dalam gurauan, misalkan:

 

"Sang X beritanya tempo hari wafat ya? Meninggalkan kantor lamanya maksudnya."
"Dekat rumahku banyak polisi tidur. Sehubungan saya murah hati, ya selimutin ajalah. Kasihan, kedinginan jika malam-malam jaga dan terkena air embun"


Dua kalimat di atas adalah contoh bergurau yang memiliki kandungan dusta. Walaupun remeh, tetapi hal itu tidak dibolehkan oleh agama. Larangan ini dimuat dalam hadis seperti berikut:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Maknanya: "Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya" - HR Abu Dawud no. 4990. Hasan.

 

Selainnya hadis di atas, ada juga ajakan jika Nabi Muhammad SAW akan memberi surga untuk mereka yang tidak bohong walau bergurau. Berikut hadisnya:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Maknanya: "Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” – HR. Abu Dawud, no. 4800; shahih. 

 

Lalu, sebenarnya kenapa bohong walaupun bergurau ini dilarang? Bila ingin tahu, nampaknya perlu memerhatikan hadis berikut ini:

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا

Maknanya: "Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.” – HR. Abu Dawud, shahih.

 

Dari hadis itu, tentu saja tahu jika bohong saat bergurau ini juga dapat melukai hati orang lain. Masalahnya bisa saja orang itu memandang apa yang disampaikan sebenarnya bukan bohong atau bergurau.

 

Disamping itu, bohong saat bergurau termasuk juga sikap yang menghabiskan waktu. Ini tidak dicintai oleh Allah SWT.

 

Dusta atau Tindakan Dusta yang Dibolehkan

Orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda munafik atau berdusta, yang merupakan sikap yang tidak dicintai Allah SWT. Karenanya perlakuan ini bisa bikin rugi orang lain dan diri kita. Karena itu, tidaklah aneh bila semua kaum muslim dilarang bohong, karena akan susah memperoleh keyakinan kembali dari orang lain.

 

Walaupun begitu, ada banyak dusta yang dibolehkan dalam Islam. Dusta ini biasanya dikatakan untuk ‘menutupi' satu kebenaran atau bukti yang bisa saja penyakitnya.

 

Imam Al Ghazali dalam karyanya sampaikan ada dispensasi bohong pada tiga keadaan. Hal itu disamakan dari hadis yang berbunyi:

أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَقُولُ: «لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا» قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: الْحَرْبُ، وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا.رواه مسلم

Maknanya: "Bahwa sesungguhnya Ummu Kultsum binti Uqbah Abi Mu’ith mendengar Rasulullah saw. berkata; “Tidak ada kebohongan yang dapat mendamaikan dua orang (yang bertikai), kemudian ia berkata baik dan melebih-lebihkan kebaikan.” Ibnu Syihab berkata (dalam riwayat lain) dan aku belum pernah mendengar Nabi mentolerir kebohongan kecuali dalam tiga kondisi; pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau sebaliknya.”

 

Akan tetapi, Imam ath-Thabari yang menolak toleran atas tiga pemakluman itu. Menurut dia, dusta pada tiga keadaan itu merupakan wujud tauriyah atau menipu.

Untuk memperjelasnya, berikut tiga dusta yang dibolehkan:

  1. Taktik perang untuk menaklukkan lawan, yang terang tidak dapat dikatakan ke musuh secara terus-terang.
  2. Bohong untuk menengahi dua orang atau faksi yang sedang benseteru. Tetapi harus dilaksanakan dengan yang baik juga, misalkan lewat perantaraan. 
  3. Ketakjujuran suami ke istri atau kebalikannya dengan arah untuk memperlihatkan rasa sayang, misalkan berbentuk sanjungan atau gombal. Meskipun begitu, dusta ini dipandang haram jika berkaitan dengan kewajiban ke-2 nya dalam jalankan peranan atau peranan rumah tangga. Misalnya, yaitu menggunakan uang keluarga untuk foya-foya atau taruhan.

 

Kebohongan atau tindakan dusta sering dipandang remeh oleh beberapa orang. Sayang, ini sebenarnya merupakan salah satu hal yang tidak dicintai Allah SWT. Mari kita jauhi kebiasaan berbohong, supaya tidak bikin rugi orang lain dan diri kita. Jadi pertanyaan di atas tentang orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda orang yang munafik atau orang yang tercela. 

 

Kata kunci terkait : orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda, orang yang berkata dusta merupakan salah satu tanda munafik, orang yang berkata dusta merupakan salah satu contoh tanda

LihatTutupKomentar